Friday, January 30, 2009

Agama , pasangan hidup... (akhirnya) TUHAN.

Tuhan menciptakan manusia sebagai makluk yang sempurna, memiliki akal pikiran dan budi pekerti.
Setiap manusia mempunyai kesempatan untuk belajar.. mencari kebenaran..mencapai tujuannya.

Saya lahir dari orang tua yang beragama Islam.. pada awalnya saya merasa Islam adalah satu-satunya pilihan Iman saya. Saya meyakini Islam, mencari tau siapa, apa, kapan, bagaimana... dan seterusnya karena “tak kenal maka tak sayang”.

Beranjak remaja saya semakin tau bahwa agama dan kepercayaan di dunia ini bukan hanya Islam. Masing-masing merasa ajaran merakalah yang akan menjamin kehidupan mereka nanti di surga, tujuan akhir mereka adalah: hidup bahagia bersama/bertemu TUHAN. Pas sekali dengan ending-ending film yang mengharu biru.

Perdebatan tentang Agama X versus Agama Y dan sebagainya.. yang mungkin tidak akan pernah selesai sampai akhir zaman. Perbedaan pendapat dan tafsir.. menurut saya.. perdebatan itu semakin membuat TUHAN bermuram durja.

Bukankah Ia mengajarkan semua umatnya untuk meng-Agung-kan namaNya.. berjalan sesuai perintahNya? TUHAN mengajarkan sesuatu, yang kemudian kita sebut sebagai AGAMA, adalah untuk memberi arah kepada semua umat manusia agar kelak dapat kembali bersama-Nya di surga seperti sebelum Adam melakukan kesalahan dengan mencicipi buah kehidupan..?

Umat Kristen bangga dengan Injil dan Yesus, umat Islam bangga dengan Al-quran dan Muhammad, umat Budha bangga dengan Tripitaka dan Sidharta.. sampai keyakinan Friedrich Nietzsche bahwa sebenarnya Tuhan tidak perlu repot mengajarkan agama jika manusia sadar dan selalu melakukan kebaikan tanpa perlu selalu dituntun seperti anak kecil yang tidak pernah bisa berjalan sendiri. Tuhan tidak perlu murka dan mengusir Adam jikalau Adam selalu mengikuti perintah TUHAN untuk menjauhi buah kehidupan.

Saya manusia berAgama.. agama adalah pasangan hidup dan tujuan saya kepada TUHAN..

Sesuai yang pernah saya baca di buku terjemahan Alquran. Kurang lebih isinya: berpuasalah seperti umat sebelummu yang beriman. Kemudian ada pula: bacalah kitab umat sebelummu yang beriman. Di situ ada wahyu Tuhan : Taurat melalui Musa dan Zabur melalui Daud. Kurang lebih isinya sama: Meng-Esa-kan Tuhan. Ajaran untuk melakukan kebaikan dan sejarah. Literatur yang sangat menarik dan lengkap.

Pada awal pembelajaran, saya sering mendapat tatapan aneh orang lain: mulai dari tuduhan bahwa kebimbangan saya akibat kemajemukan dikeluarga saya sampai dengan sindiran vulgar “sudah tidak yakin kebenaran Islam?” . Bagi saya, kebenaran hanya milik Tuhan. Kemampuan manusia menakar kebenaran masih sangat terbatas.

Bersyukur Tuhan memberi saya semangat dan kesempatan untuk belajar.


Kemudian saya beranalogi: persamaan Agama dan pasangan hidup, pasangan hidup secara harfiah. Menikah adalah salah satu cara untuk mendapatkan kebahagiaan walaupun beberapa yang lain bisa mendapatkan kebahagiaan dengan tetap hidup sendiri. Sekali lagi, analogi saya adalah pasangan hidup secara harfiah. Saya menyayangi suami saya, begitu pula pasangan yang lain. Pasti masing-masing akan membanggakan pasangannya. Kita selalu ingin membahagiakan pasangan kita, mencari tau apa yang akan membuat mereka semakin menyayangi kita.

Terkadang, kita berdiskusi dengan teman atau saudara tentang bagaimana cara membahagiakan pasangan, cara menyelesaikan masalah sampai dengan cara agar tidak merasa terkekang, tetap diselingi dengan rasa saling membanggakan pasangan masing-masing. Dan bukankah kita tidak perlu bertukar pasangan? hanya karena mendengar cerita bahwa si A lebih romantis dan si B sangat dewasa atau si C yang tidak mengekang. Diskusi tersebut akan semakin menambah wawasan kita, kedewasaan kita dalam mengarungi hidup.

Tujuan kita sama: hidup tenteram dan bahagia.

Lalu bagaimana dengan sesuatu yang diajarkan Tuhan, yang kemudian kita sebut Agama?

Saya sedih melihat ke-egois-an kaum ber-Agama yang saling mengolok, saling fitnah dan menggunjing bahkan mengatasnamakan Agama untuk perang demi kekuasaan, tanah, harta, dan tahta. pernahkah mereka meluangkan sedikit waktu untuk melihat air mata Tuhan? Kesedihan Tuhan Yang Maha Mengetahui bahwa tujuan kaum ber-Agama bukan lagi meng-Agung-kan namaNya, tapi hanya untuk...

.... ..... .... .... .... pikiran saya penuh dengan narasi. Sesaat saya ingin tak peduli dengan mereka yang sibuk menyuarakan perbedaan tentang agama masing-masing. Saya ada urusan yang lebih penting dengan Tuhan. Tuhan Yang Maha Esa, yang bisa saya temukan dimana-mana.. kapan-pun.. karena Dia Maha Esa. Bukan Tuhan yang hanya ada di satu tempat, di satu waktu. Dia adalah Tuhan yang memberi saya kesempatan untuk belajar, bukan Tuhan yang mengurung saya dalam kamar sempit.

Mike Sulistyowati
2008-2009