Mengumpat bukan hal wajar untukku walapun bisa menjadi wajar
bagi yang lain.
Dengan kesadaran penuh aku merelakan;
telinga untuk mendengar,
hati untuk memahami
dan lidah untuk tidak membalas.
Sehingga ‘diam’ adalah
satu-satunya reaksi yang bisa aku lakukan.
Selain tak memiliki kosakata tandingan yang ampuh,
ternyata
aku juga tak memiliki keberanian beradu umpatan
bahkan sekedar memperjelaskan
kenapa umpatan itu harus terucap.
Memerlukan energi mencari hubungan sebab
akibat, pembelaan masing-masing versi, akan menguras emosi. Belum lagi bila
mengulas mengenai ‘kepribadian’ setiap individu yang unik.
Pemborosan energy
yang bisa dibendung hanya dengan satu tindakan : DIAM.

1 comment:
it feels like forever since i visit ur blog and reading ur post...
i've just remember that i miss my blogging friend so much hehehhee
love how you picked ur words!
and change it into a phrase
XOXO
Post a Comment