Bagi teman-teman, tetangga dan sanak saudara, mereka tak asing lagi dengan istilah pohon duit yang sering saya pergunakan hingga saat ini. Saya memang pernah melihat, mengelus bahkan merasakan kenikmatan-nya... heleh!. Saat itu saya tak perlu khawatir untuk membeli jajanan.
Andaikan pohon duit itu bisa tumbuh di rumah saya sekarang, amboi senangnya [khayalantingkattinggi.com]. Apalagi pada musim hujan, pohon duit menjadi semakin subur. Tapi sayang pohon duit yang pernah saya miliki hanya menghasilkan duit koin alias recehan. Biar-pun recehan tapi tetep D-U-I-T ‘kan?. Sedangkan duit kertas atau duit ‘gede’ belum saya nikmati secara langsung karena sampai sekarang saya belum menemukan manakah yang menghasilkan duit kertas; entah sangkar ajaib atau telur ajaib.
Sejak berumur kira-kira 5th saya tinggal bersama Yangkung dan Yangti [Eyang kakung dan Eyang putri]. Belum perlu saya tulis asal muasal kenapa saya tinggal bersama mereka, karena akan memperpanjang paragraf ini dan menimbulkan penasaran berkepanjangan tentang pohon duit. Lagipula, kata penasaran memang kurang saya sukai karena sering bersinggungan dengan kata mati –mati penasaran—maka lebih baik segera saja saya mulai petualangan saya bersama pohon duit.
Yangkung adalah orang ke-dua, setelah mama, yang selalu mempunyai sesuatu untuk membuat saya merasa special. Termasuk manakala hati ini kecewa karena gagal mendapatkan uang jajan dari Yangti, maka saya akan segera berlari mencari Yangkung untuk mengadu. Kebun belakang adalah tujuan utama, disitulah kantor kedua setelah beliau pensiun, saya akan bercerita dengan nada memelas dan wajah nan imut untuk menarik simpatinya. Kemudian kami berdua menuju tempat rahasia di kebun seberang kandang ayam. Disitulah pohon duit tumbuh..!
Pohon tersebut berbatang lurus berwarna hijau cerah dengan inti pohon yang empuk dan berlapis-lapis. Pohon yang renyah [diskripsi yang tepat untuk keras tapi rapuh seperti kerupuk singkong favorit saya] dan berlapis-lapis. Jika dilihat sepintas pohon itu kurang menarik, tanpa bunga dan jelas tak bisa dipanjat untuk main petak umpet. Duitnya pun tidak terlihat dari luar. Pasti akan terlihat sangat menarik jika duitnya terlihat dari luar. Bila kita buka lapisan pertama dan kedua, akan nampak uang yang menyembul di lapisan ketiga. Duit recehan berkisar antara Lima Rupiah hingga Lima Puluh Rupiah.
Saya hanya diperbolehkan mengambil satu keping sesuai harga jajanan yang ingin saya beli. Lima Rupiah untuk permen cicak, es potong atau kerupuk sambal. Lima Puluh Rupiah untuk roti isi atau pecel sambel tumpang khas Kediri. “Nanti pohon-nya marah kalau uangnya diambil terlalu banyak” begitu kata Yangkung. Saya-pun patuh sesuai wejangan Yangkung agar pohon duit kami tak marah.
Setelah pohon itu berbuah, ia akan mati, tapi ada tunas penggantinya. Buahnya manis lembut, tanpa biji, berkulit kuning keemasan... Yap! Itu adalah pohon pisang.
Kadangkala jika saya ingin jajanan yang lebih bonafit, roti merk ‘delicious’ atau es krim, Yangkung akan kembali beraksi dengan ‘entah sangkar ajaib atau telur ajaib’. Di kebun ada dua kandang, yang bersebrangan dengan pohon duit adalah kandang ayam berdinding kombinasi tembok dibagian bawah dan dinding bambu dibagian atas, lantainya dilapisi semen. Sering saya sebut sebagai rumah sakit ayam. Karena kandang tersebut sangat bersih untuk ukuran kandang , khusus untuk ayam yang sakit atau ayam yang bertelur. Sedangkan ayam jago dan ayam lainnya ada di kandang yang seluruhnya terbuat dari bambu, berlantai tanah dan letaknya-pun ada dibagian kebun ujung paling belakang dekat tumpukan perabot usang yang menunggu giliran untuk diangkut tukang loak.
Di dalam rumah sakit ayam tersebut ada sarang buatan dari peti kayu dilapisi jerami yang rutin diganti untuk setiap induk yang mengerami telurnya. Nah... dibalik telur-telur itulah terdapat uang kertas Seratus Rupiah dan Lima Ratus Rupiah..! tepatnya ada di: lapisan dasar jerami – uang kertas – dan lapisan atas jerami yang tipis bercampur telur. Hal itulah yang membuat saya bingung antara sarang ajaib atau telur ajaib?.
Suatu siang yang terik, saat waktunya tidur siang, terdengar suara klintingan tukang es krim yang menggoda. Membuyarkan kantuk yang hampir masuk ke session mimpi ‘naik macan’ (mimpi favorit yang sering berulang dimasa kecil saya. Entah firasat atau bukan, ternyata shio suami saya adalah ‘macan’.. ups.. semoga dia tak membaca bagian ini). Suara tukang es krim masih terdengar sayup-sayup, saya ingin membangunkan Yangkung yang lebih duluan tertidur walaupun tembang ‘bopo pucung’-nya belum tuntas. Dilema... antara rayuan tukang es krim atau membangunkan Yangkung. Akhirnya saya putuskan untuk mengaitkan kaos yang dipakai Yangkung dengan sprei menggunakan peniti, dengan tujuan agar beliau tak bisa meninggalkan kasur jika ayam betina di kandang berkotek-kotek protes saat saya ambil uang kertas disarangnya.
Beruntung sekali saat itu ayam betina sedang tidak ada dikandang. Tanpa takut dipatok ayam, saya mencoba mencari lembaran uang kertas dibawah telur, duhh... kecewa dan hampir putus asa, tak ada selembarpun uang kertas disana. Oh, mungkin bukan sarang-nya yang ajaib, mungkin telurnya harus dierami dulu supaya menetas menjadi uang kertas. Hhmmm, baiklah, saya akan mengerami telur-telur itu! Jongkok dengan hati-hati sambil berpegangan pinggiran peti kayu dan.... setelah beberapa detik saya periksa apakah telurnya sudah menetas, ternyata belum. Saya ulangi untuk durasi yang lebih lama... belum menetas juga. Saya ulangi lagi...........
“Nduk-nduk.. cah ayu, e-lhadalah! Kok bobok neng kandang”. Saya terbangun kaget saat Yangkung mengangkat saya , celana pendek saya lengket penuh pecahan telur dan cangkangnya.
