Friday, November 25, 2011
There are no Happenings
Tubuhku menggigil kedinginan, melawan harmoni alam yang berhawa panas. Ruangan yang ingin kutuju mungkin adalah satu-satunya tempat dimana aku bisa membenamkan kepala. Kamar dengan ranjang berbalut warna biru muda. Ia mampu membuai tubuh untuk mengalihkan rasa sakit.
Masih dengan mata tertutup, samar aku dengar tembang yang tak asing bagi telingaku:
“koncrang-kancring kemencring unine kecipir, ngali’o gurune setan, bali’o buyute setan.
Lamun siro ndhang bali’o menyang kayangan-mu, banyu buthek.
Keno ilah-ilah’e Alloh, keno bendhu’ne Rasulullah. Sholollahu'allaihiwasalam”.
Aku terbius tembang kuno yang tak pernah aku tau apa judul dan maknanya.
Ketika terbangun,tak lagi mengigil kedinginan namun kutemukan tubuhku menyusut, kembali ketika aku berumur lima tahun. Tapi aku tau ini pasti mimpi. Manusia dewasa yang terjebak dalam tubuh anak kecil. Ranjang biru ini menjadi terlalu besar buatku, kelambunya yang berlapis-lapis menyulitkan gerak jemariku mencari jejak jalan keluar.
Aroma kopi panas yang harum menuntun langkah kaki berjalan di lantai ubin kelabu gelap yang dingin. Diseberang meja seorang pria tua, Yangkung, memakai celana coklat gelap dan kaos ‘swallow’ putih berlengan pendek duduk dengan rapi namun santai.
Seperti biasa, gelas stainless berisi kopi panas sudah siap diatas meja. Yangkung menjumput garam dengan ujung ibu jari dan telunjuk-nya, menaburkan pada kopi kemudian mengaduknya pelan-pelan sambil menghirup aroma kopi. Setelah menghirup satu-dua kali kopinya, Yangkung akan mengecap pelan dan menghembuskan nafas panjang seakan mengiringi cairan hitam itu melewati tenggorokan menuju lambung. Kopi itu akan diminum setengah bagian dengan gerakan yang pelan dan teratur sebelum menaburkan karak (sisa nasi yang dijemur hingga kering kemudian digoreng) ke dalam gelas, kemudian mengaduk hingga mengembang dan empuk. Seperti biasa, aku akan lari dipangkuannya, kebiasaan yang aku lakukan hingga aku harus berangkat sekolah tiap pagi. Yangkung akan menyuapiku campuran kopi dan karak tersebut. Rasa yang unik dan aroma kuat yang membuat aku bersemangat.
Sejak awal aku turun dari ranjang kuno ber-sprei biru muda beberapa menit yang lalu aku tahu bahwa ini mimpi. Manusia dewasa yang terjebak dalam tubuh anak kecil.
Dan kelak aku tahu :
- Saat aku menjadi coffee-addict, garam berfungsi untuk melembutkan aroma kopi.
- Saat aku menjadi ibu dari dua anak perempuan yang susah makan (seperti aku), karak berfungsi sama seperti cococruch/cereal.
- Saat aku menjadi secretary di perusahaan Consulting Engineering Jepang dan bertemu ‘seseorang’… bahwa tembang kuno tersebut berfungsi sebagai pelindung dari ‘energi negative’.
Terima kasih TUHAN, Engkau memberi aku kesempatan menjadi cucu dari Nyaman Soeparto , RN.
*For my b’ loved friend Ang : “tidak ada peristiwa yang kebetulan di dunia ini”
Subscribe to:
Comments (Atom)
