Tuesday, December 20, 2011

mengUMPAT


Mengumpat bukan hal wajar untukku walapun bisa menjadi wajar bagi yang lain. 
Dengan kesadaran penuh aku merelakan;
telinga untuk mendengar, 
hati untuk memahami 
dan lidah untuk tidak membalas. 

Sehingga ‘diam’ adalah satu-satunya reaksi yang bisa aku lakukan.
Selain tak memiliki kosakata tandingan yang ampuh, 
ternyata aku juga tak memiliki keberanian beradu umpatan 
bahkan sekedar memperjelaskan kenapa umpatan itu harus terucap. 

Memerlukan energi mencari hubungan sebab akibat, pembelaan masing-masing versi, akan menguras emosi. Belum lagi bila mengulas mengenai ‘kepribadian’ setiap individu yang unik. 
Pemborosan energy yang bisa dibendung hanya dengan satu tindakan : DIAM.


Thursday, December 1, 2011

Aku bukan 'anak baru'

Aku baru bergabung di Metra-Net, 
tapi sejak hari pertama kami berbincang di lobby, 
Bpk tidak pernah menganggap aku sebagai  'anak baru'.
Terima Kasih Bpk...



up-load by Tandyo Mulyatno - Multimedia Support Manager



"The end of a matter is better than its beginning, 
and patience is better than pride" 
 Ecclesiastes

Friday, November 25, 2011

There are no Happenings



Tubuhku menggigil kedinginan, melawan harmoni alam yang berhawa panas. Ruangan yang ingin kutuju mungkin adalah satu-satunya tempat dimana aku bisa membenamkan kepala. Kamar dengan ranjang berbalut warna biru muda. Ia mampu membuai tubuh untuk mengalihkan rasa sakit.

Masih dengan mata tertutup, samar aku dengar tembang yang tak asing bagi telingaku:
“koncrang-kancring kemencring unine kecipir, ngali’o gurune setan, bali’o buyute setan. 
  Lamun siro ndhang bali’o menyang kayangan-mu, banyu buthek. 
  Keno ilah-ilah’e Alloh, keno bendhu’ne Rasulullah. Sholollahu'allaihiwasalam”. 
Aku terbius tembang kuno yang tak pernah aku tau apa judul dan maknanya.

Ketika terbangun,tak lagi mengigil kedinginan namun kutemukan tubuhku menyusut, kembali ketika aku berumur lima tahun. Tapi aku tau ini pasti mimpi. Manusia dewasa yang terjebak dalam tubuh anak kecil. Ranjang biru ini menjadi terlalu besar buatku, kelambunya yang berlapis-lapis menyulitkan gerak jemariku mencari jejak jalan keluar.

Aroma kopi panas yang harum menuntun langkah kaki berjalan di lantai ubin kelabu gelap yang dingin. Diseberang meja seorang pria tua, Yangkung, memakai celana coklat gelap dan kaos ‘swallow’ putih berlengan pendek duduk dengan rapi namun santai.

Seperti biasa, gelas stainless berisi kopi panas sudah siap diatas meja. Yangkung menjumput garam dengan ujung ibu jari dan telunjuk-nya, menaburkan pada kopi kemudian mengaduknya pelan-pelan sambil menghirup aroma kopi. Setelah menghirup satu-dua kali kopinya, Yangkung akan mengecap pelan dan menghembuskan nafas panjang seakan mengiringi cairan hitam itu melewati tenggorokan menuju lambung. Kopi itu akan diminum setengah bagian dengan gerakan yang pelan dan teratur sebelum menaburkan karak (sisa nasi yang dijemur hingga kering kemudian digoreng) ke dalam gelas, kemudian mengaduk hingga mengembang dan empuk. Seperti biasa, aku akan lari dipangkuannya, kebiasaan yang aku lakukan hingga aku harus berangkat sekolah tiap pagi. Yangkung akan menyuapiku campuran kopi dan karak tersebut. Rasa yang unik dan aroma kuat yang membuat aku bersemangat.

Sejak awal aku turun dari ranjang kuno ber-sprei biru muda beberapa menit yang lalu aku tahu bahwa ini mimpi. Manusia dewasa yang terjebak dalam tubuh anak kecil. 

Dan kelak aku tahu :
- Saat aku menjadi coffee-addict, garam berfungsi untuk melembutkan aroma kopi.
- Saat aku menjadi ibu dari dua anak perempuan yang susah makan (seperti aku), karak berfungsi sama     seperti cococruch/cereal.
- Saat aku menjadi secretary di perusahaan Consulting Engineering Jepang dan bertemu ‘seseorang’… bahwa tembang kuno tersebut berfungsi sebagai pelindung dari ‘energi negative’.

Terima kasih TUHAN, Engkau memberi aku kesempatan menjadi cucu dari Nyaman Soeparto , RN.


*For my b’ loved friend Ang : “tidak ada peristiwa yang kebetulan di dunia ini”

Tuesday, November 15, 2011

Umibe no Kafuka


“Sepucuk pistol yang muncul dalam suatu cerita, pistol itu harus ditembakkan”



Kebutuhan merupakan konsep tersendiri. Dia memiliki struktur yang berbeda dengan logika, moral ataupun makna. Fungsi sepenuhnya terletak pada peran yang dimainkannya. Sesuatu yang tidak mempunyai peran tidak boleh ada.



Monday, November 14, 2011

Aku di sini

Aku disini,
Seperti isi ulang Body Shower Gel yang di tuang dalam kemasan Car Shampoo.
Tak ada yang salah dengan kemasan, pun wujud diriku.
Manakala seseorang akan mencuci mobilnya,
Aku berteriak, "Jangan dituang, aku Body Shower Gel, bukan Car Shampoo".
Tapi ia tak mendengar suaraku.






Catatan : ini bukan tentang "go green"



Thursday, November 10, 2011

Aku dan Saya



Ini soal tubuh yang tak sepaham dengan roh.
Roh dalam tubuh yang menerima semua rencana Tuhan sebagai takdir, 
ia memiliki kesadaran penuh bahwa rencana Tuhan adalah yang terindah.
Namun tubuh terkadang mencemaskan raga yang menggigil bukan sebagai takdir.

Tubuh   : Aku merasa akan mati.

Roh       : Apakah kau takut mati?

Tubuh   : Tidak, tapi aku hampir lelah,
  Aku  mati sebagai mineral, menjelma menjadi tumbuhan.
  Aku mati sebagai tumbuhan, lahir kembali sebagai binatang.
  Aku mati sebagai binatang, dan kini manusia.
  Aku masih harus mati lagi…

Roh       : Kau tak akan lelah karena saya tetap disini, setia dalam wujud apapun diri-mu.

Tubuh   : Kelelahkan-ku tak akan bisa kau rasakan.
  Perut yang lapar,
  Lengan yang terluka,
  Jantung yang berhenti berdetak.

Roh       : Maka peluk-lah saya, roh-mu, dengan hati-mu…
   Bersama, kita lalui setiap detail rencana-NYA.

Tuesday, November 8, 2011

Cigarette VS Spa-Treatment



someday,
when my hubby complained why I spend incredible amount only for spa-treatment,
then I  said : "better than burning money for cigarette, isn't it"

~the battles not finished yet... LOL

Wednesday, July 6, 2011

~Bebaskan Cinta Demi Waktu~

Raga ini sudah terkurung,
Takkan terbang bebas menggapaimu.
Terbentang laut berlaju,
Terkepung norma yang menggunung.
Seperti matahari dan bulan,
Sinari bumi kanvas cinta,
Buahkan rasa menyentuh sukma,
Beri abadi jutaan keindahan.

Hamparan ladang cinta dihatiku,
Bangkitkan hati lama menunggu,
Biarkan mereka bercumbu,
Bebaskan cinta demi waktu…


(Gandarumesihratna)

Monday, July 4, 2011

~Jembatan Permata~

Hamparan sawah padi menguning,
Ratusan burung kecil mencumbui angin senja.
Jalan kota ibu tak lagi kulalui.
Hanya angan terus membayang.
Bukan sawah padi,
Bukan burung kecil,
Bukan jalan kota ibu.

Tapi jembatan itu…

Pertama kali ku menatap permata.
Ratusan kenangan mencumbui angin senja.
Jembatan kota ibu tak lagi kulalui
Hanya keindahan terus membayang
Bukan pendar sinarnya,
Bukan pepat wujudnya,
Bukan jembatan kota ibu.

Tapi... mata seindah permata.

(Gandarumesihratna)

Monday, May 2, 2011

$$ Pohon Duit $$






Bagi teman-teman, tetangga dan sanak saudara, mereka tak asing lagi dengan istilah pohon duit yang sering saya pergunakan hingga saat ini. Saya memang pernah melihat, mengelus bahkan merasakan kenikmatan-nya... heleh!. Saat itu saya tak perlu khawatir untuk membeli jajanan.

Andaikan pohon duit itu bisa tumbuh di rumah saya sekarang, amboi senangnya [khayalantingkattinggi.com]. Apalagi pada musim hujan, pohon duit menjadi semakin subur. Tapi sayang pohon duit yang pernah saya miliki hanya menghasilkan duit koin alias recehan. Biar-pun recehan tapi tetep D-U-I-T ‘kan?. Sedangkan duit kertas atau duit ‘gede’ belum saya nikmati secara langsung karena sampai sekarang saya belum menemukan manakah yang menghasilkan duit kertas; entah sangkar ajaib atau telur ajaib.

Sejak berumur kira-kira 5th saya tinggal bersama Yangkung dan Yangti [Eyang kakung dan Eyang putri]. Belum perlu saya tulis asal muasal kenapa saya tinggal bersama mereka, karena akan memperpanjang paragraf ini dan menimbulkan penasaran berkepanjangan tentang pohon duit. Lagipula, kata penasaran memang kurang saya sukai karena sering bersinggungan dengan kata mati –mati penasaran—maka lebih baik segera saja saya mulai petualangan saya bersama pohon duit.

Yangkung adalah orang ke-dua, setelah mama, yang selalu mempunyai sesuatu untuk membuat saya merasa special. Termasuk manakala hati ini kecewa karena gagal mendapatkan uang jajan dari Yangti, maka saya akan segera berlari mencari Yangkung untuk mengadu. Kebun belakang adalah tujuan utama, disitulah kantor kedua setelah beliau pensiun, saya akan bercerita dengan nada memelas dan wajah nan imut untuk menarik simpatinya. Kemudian kami berdua menuju tempat rahasia di kebun seberang kandang ayam. Disitulah pohon duit tumbuh..!

Pohon tersebut berbatang lurus berwarna hijau cerah dengan inti pohon yang empuk dan berlapis-lapis. Pohon yang renyah [diskripsi yang tepat untuk keras tapi rapuh seperti kerupuk singkong favorit saya] dan berlapis-lapis. Jika dilihat sepintas pohon itu kurang menarik, tanpa bunga dan jelas tak bisa dipanjat untuk main petak umpet. Duitnya pun tidak terlihat dari luar. Pasti akan terlihat sangat menarik jika duitnya terlihat dari luar. Bila kita buka lapisan pertama dan kedua, akan nampak uang yang menyembul di lapisan ketiga. Duit recehan berkisar antara Lima Rupiah hingga Lima Puluh Rupiah. 

Saya hanya diperbolehkan mengambil satu keping sesuai harga jajanan yang ingin saya beli. Lima Rupiah untuk permen cicak, es potong atau kerupuk sambal. Lima Puluh Rupiah untuk roti isi atau pecel sambel tumpang khas Kediri.  “Nanti pohon-nya marah kalau uangnya diambil terlalu banyak” begitu kata Yangkung. Saya-pun patuh sesuai wejangan Yangkung agar pohon duit kami tak marah.

Setelah pohon itu berbuah, ia akan mati, tapi ada tunas penggantinya. Buahnya manis lembut, tanpa biji, berkulit kuning keemasan... Yap! Itu adalah pohon pisang.

Kadangkala jika saya ingin jajanan yang lebih bonafit, roti merk ‘delicious’ atau es krim, Yangkung akan kembali beraksi dengan ‘entah sangkar ajaib atau telur ajaib’. Di kebun ada dua kandang,  yang bersebrangan dengan pohon duit  adalah kandang ayam berdinding kombinasi  tembok dibagian bawah dan dinding bambu dibagian atas, lantainya dilapisi semen. Sering saya sebut sebagai rumah sakit ayam. Karena kandang tersebut sangat bersih untuk ukuran kandang , khusus untuk ayam yang sakit atau ayam yang bertelur. Sedangkan ayam jago dan ayam lainnya ada di kandang  yang seluruhnya terbuat dari bambu, berlantai tanah dan letaknya-pun ada dibagian kebun ujung paling belakang dekat tumpukan perabot usang yang menunggu giliran untuk diangkut tukang loak. 

Di dalam rumah sakit ayam tersebut ada sarang buatan dari peti kayu dilapisi jerami yang rutin diganti untuk setiap induk yang mengerami telurnya. Nah... dibalik telur-telur itulah terdapat uang kertas Seratus Rupiah dan Lima Ratus Rupiah..! tepatnya ada di: lapisan dasar jerami – uang kertas – dan lapisan atas jerami yang  tipis bercampur telur. Hal itulah yang membuat saya bingung antara sarang ajaib atau telur ajaib?. 

Suatu siang yang terik, saat waktunya tidur siang, terdengar suara klintingan tukang es krim yang menggoda. Membuyarkan kantuk yang hampir masuk ke session mimpi ‘naik macan’ (mimpi favorit yang sering berulang dimasa kecil saya. Entah firasat atau bukan, ternyata shio suami saya adalah ‘macan’.. ups.. semoga dia tak membaca bagian ini). Suara tukang es krim masih terdengar sayup-sayup, saya ingin membangunkan Yangkung yang lebih duluan tertidur walaupun tembang ‘bopo pucung’-nya belum tuntas. Dilema... antara rayuan tukang es krim atau membangunkan Yangkung. Akhirnya saya putuskan untuk mengaitkan kaos yang dipakai Yangkung dengan sprei menggunakan peniti, dengan tujuan agar beliau tak bisa meninggalkan kasur jika ayam betina di kandang berkotek-kotek protes saat saya ambil uang kertas disarangnya.

Beruntung sekali saat itu ayam betina sedang tidak ada dikandang. Tanpa takut dipatok ayam, saya mencoba mencari lembaran uang kertas dibawah telur, duhh... kecewa dan hampir putus asa, tak ada selembarpun uang kertas disana. Oh, mungkin bukan sarang-nya yang ajaib, mungkin telurnya harus dierami dulu supaya menetas menjadi uang kertas. Hhmmm, baiklah, saya akan mengerami telur-telur itu! Jongkok dengan hati-hati sambil berpegangan pinggiran peti kayu dan.... setelah beberapa detik saya periksa apakah telurnya sudah menetas, ternyata belum. Saya ulangi untuk durasi yang lebih lama... belum menetas juga. Saya ulangi lagi...........

“Nduk-nduk.. cah ayu,  e-lhadalah! Kok bobok neng kandang”.  Saya terbangun kaget saat Yangkung mengangkat saya , celana pendek saya lengket penuh pecahan telur dan cangkangnya.

Tuesday, April 26, 2011

PAHALA

Setelah sekian lama absent dari pengajian, hari Minggu kemarin saya datang ke pengajian akbar... [ehem].

Kenapa saya absent dari kegiatan positive tersebut?

Yang pertama adalah alasan yang tidak penting; karena pengajian rutin minggu-an diadakan setiap hari Kamis petang, tentu saja saya tidak bisa datang. Sedangkan pengajian bulan-an (kok kurang pas ya diction ‘bulan-an’ hehe) atau pengajian akbar diadakan hari Minggu pagi, tentu saja saya bisa datang –kecuali beberapa bulan kemarin setelah melahirkan— apabila tidak ada keperluan lain.

Kedua, karena egoisme saya... pasti egoisme saya tidak pada tempatnya, tapi kok ya tetap terasa kurang sreg ya?
Kali ini saya ingin curhat background kenapa ‘terasa kurang sreg’.

Suatu ketika di forum pengajian tersebut, salah seorang Ibu berbicara :
 “bla-bla-bla... mencari pahala buat bekal di akhirat, jangan duniawi melulu...”.

Eits,
Kok Ibu itu tahu kalau bekal pahala saya sangat kurang ya?
Kok Ibu itu tahu kalau saya sering hanyut dengan duniawi ya?
Pasti dia memiliki ilmu terawang tingkat tinggi.

Jadi saya sempat merasa kurang sreg, karena saya bukan mencari pahala di pengajian tapi mencari ilmu yang bermanfaat dan bersilahturahmi.

Menurut saya pahala adalah urusan Allah... biar-lah ibadah saya karena Allah semata.


Sedikit mengutip puisi Rābi’a al-‘Adawiyya :

O Lord,
Ya Allah,
If I worship You
Jika aku menyembah-Mu
From fear of Hell, burn me in Hell.
Karena takut neraka, bakar aku di neraka.

O Lord,
Ya Allah,
If I worship You
Jika aku menyembah-Mu
From hope of Paradise, bar me from its gates.
Karena mengharap surga, halangi aku di gerbangnya

But if I worship You for Yourself alone
Tapi jika aku menyembah-Mu karena Engkau semata
Then grace me forever the splendor of Your Face.
Maka berkati aku selamanya dengan keagungan wajah-Mu.



One day, she was seen running through the streets of Basra carrying a torch in one hand and a bucket of water in the other. When asked what she was doing, she said,"I want to put out the fires of Hell, and burn down the rewards of Paradise. They block the way to God. I do not want to worship from fear of punishment or for the promise of reward, but simply for the love of God."

Suatu hari, dia terlihat berlari melewati jalanan di Basra membawa obor di salah satu tangan dan seember air di tangan yang lain. Ketika ditanya apa yang dia lakukan, dia berkata,”Saya ingin memadamkan api neraka (dengan seember air) dan membakar habis pahala surga (dengan obor). Mereka menghalangi jalan saya menuju Tuhan. Saya tidak ingin menyembah Tuhan karena takut api neraka atau mengharap pahala surga, tapi hanya karena cinta Tuhan.


MIKE SULISTYOWATI
20110425

Note:
Pahala~reward ~from God for moral conduct(s).
Pahala~imbalan~dari Tuhan untuk perbuatan baik.

Monday, April 11, 2011

MWB - My Witty Bos


Mbak Kerani... oh Mbak Kerani...
Setahun yang lalu.. pas jalan ke gramedia, love at first sight sama buku ‘my stupid bos’. Sangat menghibur, bikin semangat dan membuat aku awet muda... smile all day long... haha.. lengkap koleksi MSB-ku.
Sebenarnya sedikit parno sama judul yang lumayan bikin cemas kalo sampai si bos sempet liat buku itu terlentang ups, tergeletak di mejaku. Bisa gawat! Karena he is not stupid and doesn’t raise any chaos at all ^_* .
Kalo mbak Kerani cerita soal ‘her stupid bos’, aku mau cerita soal ‘my witty bos’, as follows:
Sejak tahun 2004 aku kerja di Japanese Company. Kalo inget awal-awal tahun penuh missunderstanding karena missspelling.. walaupun sekarang aku sudah pindah ke perusahaan lain, tapi kenangan indah itu masih ada.. ehm-ehm.
Dahulu kala, my opiz terdiri dari 1 Chief Representative dan beberapa Engineer Jepang, serta 4 gelintir karyawan lokal. 1 Sesepuh, 1 PR (pengurus rupa2  - aku hehe ) dan 2 driver.  Konon, Pak Basri, nama lengkapnya: Muhamad Basri –disingkat M Basri, adalah sesepuh alias karyawan super senior yang merangkap JuBir tamu kenegaraan... ehm.
BigBos datang..! kunjungan kali ini sekaligus ingin memperkenalkan satu lagi expat yang akan bertugas di Jakarta, General Manager gitchuuu... Semua karyawan nervous mempersiapkan ini dan itu, termasuk Mr. Chief yang tak lupa memberi aku wejangan agar tak terjadi human error [sigh].
Hari pertama, schedule Mr. BigBos harus melapor dulu ke Japanese Embassy sebelum meeting di somewhere for some project. Seperti biasa, akan didampingi Pak Basri. Singkat cerita, Big Bos dan GM berangkat hanya berdua ke Japan Embassy karena Mr. Chief dan Pak Basri harus tiba di tempat meeting terlebih dahulu.
Sementara aku duduk manis sendirian dikantor sambil sesekali melihat layar cctv, siaga apabila ada sesuatu yang mencurigakan. Tampak bayang-bayang mendekat.. oh, ternyata driver yang mengantar Big Bos.
Driver : Ibu.. saya disuruh jemput Pak Basri.
Akyu: loohh... piye tho, Pak Basri kan udah pergi sama Mr. Chief.
Driver : ooo, ya udah saya balik lagi ke Plaza Indonesia.
Akyu: ok.. ati-ati yo Pak.
Tiga puluh menit kemudian, telepon berdering...
Akyu: Goo..d... (belum selesai bicara)
BigBos : Miku chan (panggilan sayang buat akyu, cieileee... karena pronouncation ‘mike’ di Jepang adalah ‘miku’)
Akyu : haik, saya..
BigBos : itu driver tidak bagus ya... I asked him to go directly to embassy while I and Mr. GM buy something in Puraza Indonesia. Sudah car carra –car call maksudnya-  many times but dia tidak datang.
Akyu: sumimasen, so now you’re in Embassy? because.. (aku gak berani nerusin pembicaraan, mending diem dulu)
BigBos : because what? After he drop me at robby Puraza, I said; no need to wait me, jemput embassy. I go there by walking.
Gubrakkk.... sudah mulai jelas sekarang duduk persoalan sebenarnya.
Akyu : ok, I will call him. Chotto matte.
Klik! BigBos matikan talipun-na. Pertanda tidak bagus.
Sesegera mungkin aku tlp driver.
Akyu : pak.. buruan ke kedutaan Jepang...jemput di Japan embassy bukan jemput m-basri....!!!
Duh Gusti, kenapa orang Jepang hoby jalan kaki..? dienakin kemana-mana dianter mobil, masih cari kesempatan olah raga.
Di sore hari yang cerah menjelang jam lima.. tiba-tiba pintu diketuk kasar, bayangan BigBos muncul di layar CCTV.
BigBos : miku chan, driver kasih belajar ya..
Akyu : haik... (sambil deg2kan)
Bigbos : I said way-shee, but he drop me to WTC building, and difficult to find way-shee there.. I want ‘pee’..!
Gubrakkk (lagi)... kesihaaan driver... bukan salah bunda mengandung, tapi mengapa BigBos gak bilang aja ‘toliet’ dari pada ‘way-shee’.. we-ce... WC. Bukan bhs Jepang, bukan bhs Inggris.. bukan pula bhs Indonesia.
Lagi-lagi driver yang memang disediakan untuk BigBos harus bergelut dengan bahasa Jepang, Indonesia dan Inggris yang campur aduk.
Kali ini setelah aku baru kembali dari makan siang, driver mondar-mandir di depan pintu dan... aha!
Driver2: Ibu.. BigBos minta kopi, saya tidak tau kopi yang mana? kopi Jepang mungkin ya?
Akyu: !?!?.. ada juga teh Jepang, Pak.
Driver2: bukan.. dia minta kopi.. kara kopi.
Akyu: (dalam hati: setau-ku ‘kara’ adalah merek santan instan)
Driver2: ndak tau deh Bu.. Ibu aja ke dalam.
Eng ing eng.....
Akyu: shitsurei shimasu..
BigBos: Miku chan.. plis-plis come.. I need ‘kara kopi’ dimana ya? I ask driver2 but he goes out..?!?
Akyu: (mikir sambil nganga).....
BigBos: here only black and white, right? But I need ‘kara kopi’
Akyu: (berbinar cerah, tersenyum lega)... OK, wakarimasuta!!
Shinggggg.... aku langsung meraih dokumen di meja dan terbang ke tukang poto-kopi-kolor.
Sekarang aku sedang merindukan BigBos.. karena aku udah pindah kerja.
Aku selalu ingat pesan beliau: miku chan harus bisa kerja semua, learning by error dan learning by doing, supaya bisa kerja bagus.. bisa jadi orang kunci -key person. (heleh.. kuncen?!?!).



my lil' girl mercy at me..?!?

From our kitchen, while we rearrange cable-setup... our lil’ girl were chit-chat with her private-teacher;

Didi: It’s me.. when I was a baby, she pointed her baby pict – there’s label: Deanara Dyan Faizal.
Miss Lia: soo cute.. like your little sister.. uummm who's her name?
Didi: Danadyaksa Dyan Faizal, we call her Memey or Ayya. Both of us use Papa’s name, none with Mama’s name...

(me and my hubby looked each other; dazed, smiled... tingling)