Setelah sekian lama absent dari pengajian, hari Minggu kemarin saya datang ke pengajian akbar... [ehem].
Kenapa saya absent dari kegiatan positive tersebut?
Yang pertama adalah alasan yang tidak penting; karena pengajian rutin minggu-an diadakan setiap hari Kamis petang, tentu saja saya tidak bisa datang. Sedangkan pengajian bulan-an (kok kurang pas ya diction ‘bulan-an’ hehe) atau pengajian akbar diadakan hari Minggu pagi, tentu saja saya bisa datang –kecuali beberapa bulan kemarin setelah melahirkan— apabila tidak ada keperluan lain.
Kedua, karena egoisme saya... pasti egoisme saya tidak pada tempatnya, tapi kok ya tetap terasa kurang sreg ya?
Kali ini saya ingin curhat background kenapa ‘terasa kurang sreg’.
Suatu ketika di forum pengajian tersebut, salah seorang Ibu berbicara :
“bla-bla-bla... mencari pahala buat bekal di akhirat, jangan duniawi melulu...”.
Eits,
Kok Ibu itu tahu kalau bekal pahala saya sangat kurang ya?
Kok Ibu itu tahu kalau saya sering hanyut dengan duniawi ya?
Pasti dia memiliki ilmu terawang tingkat tinggi.
Jadi saya sempat merasa kurang sreg, karena saya bukan mencari pahala di pengajian tapi mencari ilmu yang bermanfaat dan bersilahturahmi.
Menurut saya pahala adalah urusan Allah... biar-lah ibadah saya karena Allah semata.
Sedikit mengutip puisi Rābi’a al-‘Adawiyya :
O Lord,
Ya Allah,
If I worship You
Jika aku menyembah-Mu
From fear of Hell, burn me in Hell.
Karena takut neraka, bakar aku di neraka.
O Lord,
Ya Allah,
If I worship You
Jika aku menyembah-Mu
From hope of Paradise, bar me from its gates.
Karena mengharap surga, halangi aku di gerbangnya
But if I worship You for Yourself alone
Tapi jika aku menyembah-Mu karena Engkau semata
Then grace me forever the splendor of Your Face.
Maka berkati aku selamanya dengan keagungan wajah-Mu.
One day, she was seen running through the streets of Basra carrying a torch in one hand and a bucket of water in the other. When asked what she was doing, she said,"I want to put out the fires of Hell, and burn down the rewards of Paradise. They block the way to God. I do not want to worship from fear of punishment or for the promise of reward, but simply for the love of God."
Suatu hari, dia terlihat berlari melewati jalanan di Basra membawa obor di salah satu tangan dan seember air di tangan yang lain. Ketika ditanya apa yang dia lakukan, dia berkata,”Saya ingin memadamkan api neraka (dengan seember air) dan membakar habis pahala surga (dengan obor). Mereka menghalangi jalan saya menuju Tuhan. Saya tidak ingin menyembah Tuhan karena takut api neraka atau mengharap pahala surga, tapi hanya karena cinta Tuhan.
MIKE SULISTYOWATI
20110425
Note:
Pahala~reward ~from God for moral conduct(s).
Pahala~imbalan~dari Tuhan untuk perbuatan baik.