Tuesday, April 26, 2011

PAHALA

Setelah sekian lama absent dari pengajian, hari Minggu kemarin saya datang ke pengajian akbar... [ehem].

Kenapa saya absent dari kegiatan positive tersebut?

Yang pertama adalah alasan yang tidak penting; karena pengajian rutin minggu-an diadakan setiap hari Kamis petang, tentu saja saya tidak bisa datang. Sedangkan pengajian bulan-an (kok kurang pas ya diction ‘bulan-an’ hehe) atau pengajian akbar diadakan hari Minggu pagi, tentu saja saya bisa datang –kecuali beberapa bulan kemarin setelah melahirkan— apabila tidak ada keperluan lain.

Kedua, karena egoisme saya... pasti egoisme saya tidak pada tempatnya, tapi kok ya tetap terasa kurang sreg ya?
Kali ini saya ingin curhat background kenapa ‘terasa kurang sreg’.

Suatu ketika di forum pengajian tersebut, salah seorang Ibu berbicara :
 “bla-bla-bla... mencari pahala buat bekal di akhirat, jangan duniawi melulu...”.

Eits,
Kok Ibu itu tahu kalau bekal pahala saya sangat kurang ya?
Kok Ibu itu tahu kalau saya sering hanyut dengan duniawi ya?
Pasti dia memiliki ilmu terawang tingkat tinggi.

Jadi saya sempat merasa kurang sreg, karena saya bukan mencari pahala di pengajian tapi mencari ilmu yang bermanfaat dan bersilahturahmi.

Menurut saya pahala adalah urusan Allah... biar-lah ibadah saya karena Allah semata.


Sedikit mengutip puisi Rābi’a al-‘Adawiyya :

O Lord,
Ya Allah,
If I worship You
Jika aku menyembah-Mu
From fear of Hell, burn me in Hell.
Karena takut neraka, bakar aku di neraka.

O Lord,
Ya Allah,
If I worship You
Jika aku menyembah-Mu
From hope of Paradise, bar me from its gates.
Karena mengharap surga, halangi aku di gerbangnya

But if I worship You for Yourself alone
Tapi jika aku menyembah-Mu karena Engkau semata
Then grace me forever the splendor of Your Face.
Maka berkati aku selamanya dengan keagungan wajah-Mu.



One day, she was seen running through the streets of Basra carrying a torch in one hand and a bucket of water in the other. When asked what she was doing, she said,"I want to put out the fires of Hell, and burn down the rewards of Paradise. They block the way to God. I do not want to worship from fear of punishment or for the promise of reward, but simply for the love of God."

Suatu hari, dia terlihat berlari melewati jalanan di Basra membawa obor di salah satu tangan dan seember air di tangan yang lain. Ketika ditanya apa yang dia lakukan, dia berkata,”Saya ingin memadamkan api neraka (dengan seember air) dan membakar habis pahala surga (dengan obor). Mereka menghalangi jalan saya menuju Tuhan. Saya tidak ingin menyembah Tuhan karena takut api neraka atau mengharap pahala surga, tapi hanya karena cinta Tuhan.


MIKE SULISTYOWATI
20110425

Note:
Pahala~reward ~from God for moral conduct(s).
Pahala~imbalan~dari Tuhan untuk perbuatan baik.

Monday, April 11, 2011

MWB - My Witty Bos


Mbak Kerani... oh Mbak Kerani...
Setahun yang lalu.. pas jalan ke gramedia, love at first sight sama buku ‘my stupid bos’. Sangat menghibur, bikin semangat dan membuat aku awet muda... smile all day long... haha.. lengkap koleksi MSB-ku.
Sebenarnya sedikit parno sama judul yang lumayan bikin cemas kalo sampai si bos sempet liat buku itu terlentang ups, tergeletak di mejaku. Bisa gawat! Karena he is not stupid and doesn’t raise any chaos at all ^_* .
Kalo mbak Kerani cerita soal ‘her stupid bos’, aku mau cerita soal ‘my witty bos’, as follows:
Sejak tahun 2004 aku kerja di Japanese Company. Kalo inget awal-awal tahun penuh missunderstanding karena missspelling.. walaupun sekarang aku sudah pindah ke perusahaan lain, tapi kenangan indah itu masih ada.. ehm-ehm.
Dahulu kala, my opiz terdiri dari 1 Chief Representative dan beberapa Engineer Jepang, serta 4 gelintir karyawan lokal. 1 Sesepuh, 1 PR (pengurus rupa2  - aku hehe ) dan 2 driver.  Konon, Pak Basri, nama lengkapnya: Muhamad Basri –disingkat M Basri, adalah sesepuh alias karyawan super senior yang merangkap JuBir tamu kenegaraan... ehm.
BigBos datang..! kunjungan kali ini sekaligus ingin memperkenalkan satu lagi expat yang akan bertugas di Jakarta, General Manager gitchuuu... Semua karyawan nervous mempersiapkan ini dan itu, termasuk Mr. Chief yang tak lupa memberi aku wejangan agar tak terjadi human error [sigh].
Hari pertama, schedule Mr. BigBos harus melapor dulu ke Japanese Embassy sebelum meeting di somewhere for some project. Seperti biasa, akan didampingi Pak Basri. Singkat cerita, Big Bos dan GM berangkat hanya berdua ke Japan Embassy karena Mr. Chief dan Pak Basri harus tiba di tempat meeting terlebih dahulu.
Sementara aku duduk manis sendirian dikantor sambil sesekali melihat layar cctv, siaga apabila ada sesuatu yang mencurigakan. Tampak bayang-bayang mendekat.. oh, ternyata driver yang mengantar Big Bos.
Driver : Ibu.. saya disuruh jemput Pak Basri.
Akyu: loohh... piye tho, Pak Basri kan udah pergi sama Mr. Chief.
Driver : ooo, ya udah saya balik lagi ke Plaza Indonesia.
Akyu: ok.. ati-ati yo Pak.
Tiga puluh menit kemudian, telepon berdering...
Akyu: Goo..d... (belum selesai bicara)
BigBos : Miku chan (panggilan sayang buat akyu, cieileee... karena pronouncation ‘mike’ di Jepang adalah ‘miku’)
Akyu : haik, saya..
BigBos : itu driver tidak bagus ya... I asked him to go directly to embassy while I and Mr. GM buy something in Puraza Indonesia. Sudah car carra –car call maksudnya-  many times but dia tidak datang.
Akyu: sumimasen, so now you’re in Embassy? because.. (aku gak berani nerusin pembicaraan, mending diem dulu)
BigBos : because what? After he drop me at robby Puraza, I said; no need to wait me, jemput embassy. I go there by walking.
Gubrakkk.... sudah mulai jelas sekarang duduk persoalan sebenarnya.
Akyu : ok, I will call him. Chotto matte.
Klik! BigBos matikan talipun-na. Pertanda tidak bagus.
Sesegera mungkin aku tlp driver.
Akyu : pak.. buruan ke kedutaan Jepang...jemput di Japan embassy bukan jemput m-basri....!!!
Duh Gusti, kenapa orang Jepang hoby jalan kaki..? dienakin kemana-mana dianter mobil, masih cari kesempatan olah raga.
Di sore hari yang cerah menjelang jam lima.. tiba-tiba pintu diketuk kasar, bayangan BigBos muncul di layar CCTV.
BigBos : miku chan, driver kasih belajar ya..
Akyu : haik... (sambil deg2kan)
Bigbos : I said way-shee, but he drop me to WTC building, and difficult to find way-shee there.. I want ‘pee’..!
Gubrakkk (lagi)... kesihaaan driver... bukan salah bunda mengandung, tapi mengapa BigBos gak bilang aja ‘toliet’ dari pada ‘way-shee’.. we-ce... WC. Bukan bhs Jepang, bukan bhs Inggris.. bukan pula bhs Indonesia.
Lagi-lagi driver yang memang disediakan untuk BigBos harus bergelut dengan bahasa Jepang, Indonesia dan Inggris yang campur aduk.
Kali ini setelah aku baru kembali dari makan siang, driver mondar-mandir di depan pintu dan... aha!
Driver2: Ibu.. BigBos minta kopi, saya tidak tau kopi yang mana? kopi Jepang mungkin ya?
Akyu: !?!?.. ada juga teh Jepang, Pak.
Driver2: bukan.. dia minta kopi.. kara kopi.
Akyu: (dalam hati: setau-ku ‘kara’ adalah merek santan instan)
Driver2: ndak tau deh Bu.. Ibu aja ke dalam.
Eng ing eng.....
Akyu: shitsurei shimasu..
BigBos: Miku chan.. plis-plis come.. I need ‘kara kopi’ dimana ya? I ask driver2 but he goes out..?!?
Akyu: (mikir sambil nganga).....
BigBos: here only black and white, right? But I need ‘kara kopi’
Akyu: (berbinar cerah, tersenyum lega)... OK, wakarimasuta!!
Shinggggg.... aku langsung meraih dokumen di meja dan terbang ke tukang poto-kopi-kolor.
Sekarang aku sedang merindukan BigBos.. karena aku udah pindah kerja.
Aku selalu ingat pesan beliau: miku chan harus bisa kerja semua, learning by error dan learning by doing, supaya bisa kerja bagus.. bisa jadi orang kunci -key person. (heleh.. kuncen?!?!).



my lil' girl mercy at me..?!?

From our kitchen, while we rearrange cable-setup... our lil’ girl were chit-chat with her private-teacher;

Didi: It’s me.. when I was a baby, she pointed her baby pict – there’s label: Deanara Dyan Faizal.
Miss Lia: soo cute.. like your little sister.. uummm who's her name?
Didi: Danadyaksa Dyan Faizal, we call her Memey or Ayya. Both of us use Papa’s name, none with Mama’s name...

(me and my hubby looked each other; dazed, smiled... tingling)